Asuhan Keperawatan Kritis Pada Neonatus

Asuhan Keperawatan Neonatus

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA NEONATUS

By. Ns. Andini Kesuma Wastika Putri, S.Kep., M.KM

NEONATUS

Pendahuluan

Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2009).

Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan reflek-reflek primitif seperti menghisap dan mencari puting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 – 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat.

 

Pengertian

Neonatus merupakan masa bayi baru lahir sampai usia 28 hari (wewenang maternitas adalah 0-

40 hari). Periode neonatal atau neonatus adalah bulan pertama kehidupan. Selama periode

neonatal bayi mengalami pertumbuhan dan perubahan yang amat manakjubkan. (Mary Hamilton,

1995: 217).

Fisiologi

  1. Respirasi

Perubahan yang penting pada neonatus adalah respirasi. Pada saat intarauterin, paru-paru berisi ± 20 cc/KgBB. Pada saat lahir, cairan tersebut digantikan dengan udara. Dengan kelahiran pervaginam, cairan tersebut dikeluarkan melalui trakea dan paru-paru. Nafas yang pertama merupakan reflek dari perubahan tekanan, perubahan suhu, suara dan sensasi fisik pada saat kelahiran dengan permukaan yang relative kasar. Disisi lain, kemoreseptor di aorta berespon terhadap penurunan PO2 (dari 80 mmHg ke 15 mmHg), peningkatan CO2 (dari 40 mmHg ke 70 mmHg) dan penurunan pH arteri. Depresi pernafasan tersebut terjadi karena terputusnya tali pusat. Nafas pertama bersifat dangkal dan tidak teratur ± 30-60 x/menit disertai periode apnea pendek (<15”). Bayi baru lahir lebih menyukai bernafas melalui hidung. Saat mengalami pembuntuan, reflek yang digunakan adalah membuka mulut, tetapi kemampuan tersebut baru dimiliki setelah usia 3 minggu, oleh karena itu bayi mudah mengalami cyanosis jika mengalami obstruksi hidung.

  1. Sirkulasi

System sirkulasi mengalami perubahan saat lahir, foramen ovale, duktus arteriosus dan duktus venosus menutup. Arteri dan vena umbilical serta arteri hepatica menjadi ligament. Tekanan arteri pulmonal menurun menyebabkan penurunan tekanan artrium kanan. Peningkatan aliran darah yang kembali kesisi kiri jantung meningkatkan tekanan atrium kiri. Perubahan tekanan ini menyebabkan penutupan foramen ovale. Selama beberapa hari, menangis menyebabkan pengembalian aliran darah melalui foramen ovale dan menyebabkan cyanosis. Saat level PO2 arteri mendekati 50 mmHg, duktus arteriosus menutup kemudian duktus tersebut menjadi ligament. Dengan pematangan tali pusat, arteri dan vena umbilical serta duktus venosus menutup cepat dan menjadi ligament.

  1. Termoregulasi

Pengendalian panas adalah cara kedua untuk menstabilkan fungsi pernafasan dan sirkulasi bayi. Termoregulasi adalah upaya mempertahankan keseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas. Bayi bersifat homeothemic yang artinya berusaha menstabilkan suhu badan internal dalam rentang yang pendek. Hipotermi dan kehilangan panas yang berlebihan merupakan kejadian yang membahayakan. Termogenesis pada bayi dipenuhi oleh brown fat dan meningkatkan aktifitas metabolisme otak, jantung dan liver. Brown fat terletak pada antara kedua scapula dan axila, serta didalam pintu masuk dada, sekitar ginjal dan vertebra. Lemak tersebut mengandung banyak pembuluh darah dan saraf daripada lemak biasa.

  1. Hematologi

Hb bayi lebih banyak dari orang dewasa yaitu 14,5-22,5 g/dl, tetapi merupakan HbF yaitu Hb yang usianya lebih pendek dari orang dewasa (40-90 hari). Dengan simpanan Fe selama dalam kandungan, bayi akan membuat Hb yang baru. Simpanan Fe dapat dipertahankan sampai usia 5 bulan.

  1. Sistem Renal

Pada usia khamilan empat bulan, ginjal bayi sudah terbentuk dan sudah bisa memproduksi urine. Urin akan dikeluarkan kedalam cairan amnion. Fungsi renal seperti orang dewasa baru bisa dipenuhi saat bayi berusia 2 bulan. Saat lahir biasanya bayi akan BAK sedikit dan kemudian tidak BAK selam 12-24 jam, kemudian akan BAK 6-10 x/menit. Urin berwarna kuning, berjumlah 15-60 cc/KgBB.

  1. Gastrointestinal

Bayi aterm sudah bisa menelan, mencerna dan mengolah serta menyerap protein dan karbohidrat sederhana serta mengemulsi lemak sederhana. Bayi yang hidrasinya baik, mukosa mulutnya basah, merah muda. Setelah lahir ada sedikit mucus yang tersisa dimulut bayi.

  1. Sistem Hepatika

Liver dan gall blader dibentuk usia kehamilan 4 bulan. Liver dapat diraba pada bayi baru lahir 1 cm dibawah costa kanan karena liver memenuhi ± 40 % kavitas abdomen. 50 % bayi aterm mengalami hyperbilirubinemia yang fisiologis sebagai akibat dari frekuensi produksi bilirubin yang tinggi dari pemecahan RBC yang lebih banyak dari dewasa, selain itu ada sejumlah bilirubin yang diserap kembali dari usus halus.

  1. Sistem Imunologi

System imunologi pada bayi baru berkembang pada fase awal ekstrauterin dan belum aktif sampai dengan beberapa bulan. Selam tiga bulan pertama, bayi dilindungi oleh imunitas pasif dari ibu.

  1. Sistem integument

Vernix caseosa, suatu lapisan putih seperti keju, menutupi bayi saat lahir, fungsinya masih belum jelas. Dalam 24 jam vernix caseosa akan diabsorsi kulit dan hilang seluruhnya, jadi tidak perlu dibersihkan.

  1. Sistem Reproduksi

Perempuan:

  1. Ovarium sudah berisi ribuan sel-sel primitive (folikel primordial).
  2. Peningkatan estrogen selama kehamilan didikuti dengan penurunan yang tiba-tiba saat kelahiran menyebabkan terjadinya pengeluaran darah atau mucus dari vagina disebut pseudomenstruasi.
  3. Genetalia eksterna edema dan hiperpigmentasi.
  4. Labia mayor dan minor sudah menutupi vestibulum.
  5. Vernix caseosa terdapat dikedua labia.

Laki-laki:

  1. Testis sudah turun kedalam scrotum pada 90 % bayi.
  2. Spermatogenesis belum terjadi, baru terjadi saat pubertas.
  3. Sering terjadi hidriceles yaitu akumulasi cairan disekitar testis, bisa sembuh sendiri.
  1. Sistem Muskuloskeletal

Pertumbuhan tulang terjadi cephalocaudal. Kepala mempunyai panjang ¼ dari panjang badan bayi, dengan lengan lebih panjang sedikit dari kaki. Ukuran dan bentuk kepala dapat sedikit berubah akibat penyesuaian dengan jalan lahir disebut molding.

Penanganan bayi baru lahir

Tujuan utama perawatan bayi baru lahir adalah:

  1. Membersihkan jalan nafas.

Bayi normal akan menangis spontan segera setelah dilahirkan. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut:

  1. Letakkkan bayi pada posisi telentang ditempat yang keras dan hangat.
  2. Gulung sepotong kain dan letakkan dibawah bahu sehingga leher bayi lebih bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
  3. Bersihkan rongga hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril.
  4. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2 – 3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi akan segera menangis.
  5. Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak. Oleh karena itu segera bersihkan mulut dan hidung bayi baru lahir. Observasi warna kulit, adanya meconium dalam hidung atau mulut.
  6. Bantuan untuk memulai pernafasan diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat.
  7. Dokter atau tenaga medis hendaknya melakukan pemompaan setelah 1 menit bayi tidak menangis.
  1. Memotong dan merawat tali pusat.

Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak menentukan dan mempengaruhi bayi, kecuali bayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70 % atau povidon iodin 10 % serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari dan setiap basah atau kotor. Sebelum memotong tali pusat. Pastikan bahwa tali pusat sudah diklem dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan.

  1. Mempertahankan suhu tubuh bayi.

Pada waktu bayi baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya stabil. Suhu tubuh bayi harus dicatat.

  1. Memberikan vitamin K.

Pemberian vitamin K dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K. Vitamin K diberikan peroral 1 mg/ hari selama 3 hari, sedangkan bayi yang beresiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg I.M.

  1. Memberikan obat tetes/ salep mata.

Setiap bayi lahir perlu diberikan tetes mata atau salep mata setelah 5 jam bayi lahir untuk mencegah terjadinya penyakit mata karena klamidia. Tetes atau salep mata yang diberikan adalah eritromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1 %.

  1. Identifikasi bayi baru lahir.

Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia ditempat penerimaan pasien. Kamar bersalin dan ruang rawat bayi. Peralatan yang digunakan hendaknya kebal air dengan tepi yang halus dan tidak melukai, tidak mudah robek dan tidak mudah lepas. Pada gelang atau alat identifikasi harus tercantum:

  1. Nama (bayi, nyonya).
  2. Tanggal lahir.
  3. Nomor bayi.
  4. Jenis kelamin.
  5.  
  6. Nama lengkap ibu. Disetiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor identifikasi. Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut dan catat dalam rekam medik.
  1. Mencegah terjadinya infeksi.

Dapat dilakukan dengan perawatan tali pusat yang aseptik dan antiseptik. Pemberian tetes atau salep mata untuk mencegah infeksi pada mata.

Pemantauan bayi baru lahir

Bayi baru lahir dilakukan untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian. Yang perlu dipantau pada bayi baru lahir adalah:

  1. Suhu badan dan lingkungan.

Suhu badan bayi perlu diukur  dan dicatat secara teratur untuk mengetahui adanya peningkatan suhu tubuh sehingga dapat segera dilakukan tindakan yang tepat dan cepat.

  1. Tanda – tanda vital.
  2. Suhu tubuh bayi diukur melalui ketiak atau dubur bayi.
  3. Nadi dapat dipantau di semua titik – titik nadi perifer.
  4. Pernafasan yang normal pada bayi baru lahir adalah perut dan dada bergerak bersamaan tanpa adanya retraksi, tanpa terdengar adanya suara pada waktu inspirasi maupun ekspirasi. Gerak pernafasan 30 – 50 kali permenit.
  5. Tekanan darah dipantau bila ada indikasi.
  6. Mandi dan perawatan kulit.

Dalam keadaan normal kulit bayi baru lahir adalah kemerahan dan terjadi pengelupasan ringan. Mandi pada bayi baru lahir sangat diperlukan untuk merawat kebersihan kulit dan menjaga kelembaban kulit dan suhu tubuh.

  1.  

Pakaian pada bayi dapat menjaga kehangatan suhu tubuh bayi. Sehingga bayi tidak jatuh pada keadaan hipotermia. Pakaian juga dapat melindungi kulit bayi dari resiko cidera/tergores.

  1. Perawatan tali pusat.

Perawatan tali pusat dilakukan secara aseptik dan antiseptik untuk mencegah terjadinya infeksi pada tali pusat.

Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir (Depkes, 2002)

  1. Evaporasi adalah cara kehilangan panas utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi. setelah lahir karena bayi tida langsung dikeringkan atau terjadi setelah bayi dimandikan.
  2. Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin, miasal bayi yang diletakkan diatas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin cepat mengalami kehilangan panas tubuh melalui konduksi
  3. Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayiterpapar dengan udara disekitar yang telah dingin, bayi yang dilahirkan di ruangan yang dingin cepat mengalmi kehilingan panas. Kehilangan panas terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran udara atau penyejuk ruangan.
  4. Radiasi adalah kehilangan pnas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat berada yang mempunyai temperatur tubuh lebih rendah dari temperatur tubuh bayi, bayi akan mengalami kehilangan panas melalui car ini. Benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan panas bayi.

Penilaian bayi untuk tanda – tanda kegawatan  

Semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda –tanda kegawatan/ kelainan yang menunjukkan suatu penyakit.

  1. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa tanda – tanda berikut:
  2. Sesak nafas.
  3. Frekuensi pernafasan 60 X/mnt.
  4. Gerak retraksi dada.
  5. Malas minum.
  6. Panas atau suhu badan bayi rendah.
  7. Bayi kurang aktif.
  8. Berat lahir rendah (1500 – 2500 gram).
  9. Tanda – tanda bayi sakit berat.

Apabila terdapat salah satu atau lebih tanda – tanda berikut ini:

  1. Sulit minum.
  2. Sianosis sentral (lidah biru).
  3. Perut kembung.
  4. Periode apneu.
  5. Kejang / periode kejang – kejang kecil.
  6.  
  7.  
  8. Sangat kuning.
  9. Berat badan lahir < 1500 gram.

Komplikasi yang sering terjadi pada bayi baru lahir

  1. Icterus neonatorum

Kira-kira 1/3 dari bayi yang baru lahir , memperlihatkan icterus antara Hari ke 2 dan ke 5 yang dinamakan icterus fisiologis yang ditimbulkan oleh hyperbilirubinaemia yang disebabkan oleh:

  1. Penghancuran erytrocyt yang hebat.

Kehidupan intra uterin terdapat polycytaemia untuk mengimbangi kadar O2 yang rendah. Sedangkan untuk kehidupan diluar tidak diperlukan sedemikian banyak erythrocyte.

  1. Hati bayi belum berfaal baik, sehingga tidak dapat mengubah Bilirubin I menjadi bilirubin II. Pada anak premature icterus biasanya lebih hebat dan lebih lama lagi karena faal hati masih sangat kurang.
  2. Kehilangan Berat Badan

Selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak kemasukan cairan (Asi belum lancar). Sedangkan bayi mengeluarkan faeces, urine dan peluh dengan cukupbanyak maka BB bayi turun. Kehilangan BB tidak boleh lebih dari 10%.

Asuhan Keperawatan

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan bayi dapat dilakukan segera setelah status kardiovaskuler aman dan secara berkala.

  1. Penampilan umum
  2. BB 2500-4000 gram, akan berkurang 3-5 hari, tetapi tidak boleh > 10 %, biasanya akan naik kembali setelah hari ke 8-12.
  3. PB 46-56 cm.
  4. Suhu 36,5-37,5 derajat Celcius.
  5. Kepala
  6. Ukur: lingkar kepala
  7. Periksa adanya caput atau cepal hematom, molding, fontanel anterior dan posterior.
  8. Periksa bentuk telinga.
  9. Simetris tidaknya wajah.
  10. Periksa mata: bentuk, letak, ukuran, pupil, reflek cahaya, adanya perdarahan.
  11. Periksa mulut: bibir, palatum, lidah, gigi.
  12. Periksa hidung: septum, simetris atau tidak.
  13. Periksa leher: Ukuran simetris/tidak, Gerakan baik/kurang baik, Pergerakan otot.
  14. Kulit
  15. Vernix caseosa
  16. Lanugo terutama diwajah, bahu (lebih banyak pada premature)
  17. Warna kulit (biasanya bayi akan mengalami akrosianosis, lalu badan akan semakin merah jika bayi menangis), adanya bintik-bintik, deskuamasi, kering.
  18. Pembesaran payudara.
  19. Bercak meconium pada kulit, tali pusat, kuku jari.
  20. Cairan amnion, bau.
  21. Cari adanya jaundice dengan menekan kulit, maka warna kuning akan lebih jelas.
  22. Dada
  23. Diameter anteroposteriorhampir sama dengan diameter transversa (diameter diukur sedikit diatas putting), lebih pendek daripada abdomen.
  24. Pembesaran payudara, witch’s milk.
  25. Palpasi/auskultasi PMI, frekuensi, kualitas HR (120-160 x/menit) dan murmur.
  26. Karakteristik respirasi, cracles, ronchi, suara nafas tiap-tiap sisi dada, frekuensi 30-60 x/menit (dad dan perut bergerak bersama, hitung 1 menit penuh), periode apnea.
  27. Abdomen
    1. Bentuk: simetris/tidak
    2. Bising usus: ada/ tidak
    3. Kelainan: cekung/cembung
    4. Tali Pusat, pembuluh darah, perdarahan, kelainan tali pusat.
  28. Neurologik
    1. Tonus otot.
    2. Reflek: moro reflek, tonik neck reflek, palmar graps reflek, walking reflek, rooting reflek, sucking reflek.
  29. Kelamin
    1. Bayi perempuan, labia mayora/minora, sekresi vaginal, kelainan, Anus.
    2. Bayi laki-laki, scrotum, testis, penis, kelainan.
  30. Punggung

Adanya benjolan atau defek yang lain ( bayi harus ditengkurapkan )

  1. Ektremitas
    1. Kelengkapan jari, adanya sindaktili dan polidaktili.
    2. Bentuk ekstremitas, bandingkan panjang kedua kaki, tinggi lutut, dan gerakannya dengan menekuk kedua paha kekanan kiri abdomen.

Penilaian APGAR Score

APGAR

PEMERIKSAAN

0

1

2

Appearance/

warna kulit

Inspeksi

Biru/pucat

seluruh tubuh

Badan merah,

ekstremitas biru

Semua merah

 

Pulse/denyut

jantung

Auskultasi

jantung

Tidak terdengar

< 100 x/menit

> 100 x/menit

 

Grimace/

reflek iritabily

Menghisap atau

rangsang lain

Tidak ada respon

Menyeringai

Menangis keras

 

Activity/

tonus otot

Inspeksi

Lemah

Fleksi

ekstremitas

Gerak aktif

 

Respiration/

pernafasan

Inspeksi

Tidak ada

gerakan

pernafasan

Menangis

lemah atau

merintih

Gerakan

pernafasan kuat/

menangis kuat

 

 

 

Total score:

0-3: asfiksia berat

4-6: asfiksia sedang

7-10: asfiksia ringan

 

Periode trasisional pada neonates

  1. Periode I: reaktivitas (30 menit pertama setelah lahir). Bayi terjaga dengan:
  1. Buka mata
  2. Memberikan respon terhadap stimulus
  3. Mengisap dengan penuh semangat dan menangis
  4. RR 82 x/ mnt
  5. Denyut jantung sampai 180 x/mnt
  6. Bising usus aktif
  7. Restfulness mengikuti fase awal reaktivitas dan berlangsung 2 sampai 4 jam.

Kemudian suhu tubuh, pernafasan, nadi menurun.

  1. Periode II: reaktivitas (berlangsung 2 sampai 5 jam). Bayi bangun dari tidur yang nyenyak:
  1. Denyut jantung dan kecepatan pernafasan meningkat
  2. Reflek gag aktif
  3. Mungkin mengeluarkan meconium & urine
  4. Menghisap
  5. Lendir pernafasan berkurang.
    1. Periode III: stabilisasi (12 sampai 24 jam setelah lahir). Bayi lebih mudah tidur dan terbangun:
  6. Tanda-tanda vital stabil
  7. Kulit berwarna kemerahan dan hangat.

Diagnosa Keperawatan

  1. Resiko infeksi berhubungan dengan sumbatan atau kotoran pada tali pusat

Tujuan: tidak terjadi infeksi pada tali pusat

Intervensi:

  1. Kaji adanya bau atau cairan pada tali pusat

R: Cairan pada tali pusat dapat menunjukkan adanya infeksi

  1. Lakukan perawatan pada tali pusat dengan alcohol

R: Alcohol dapat mencegah infeksi yang terjadi pda tali pusat

  1. Ganti nouvel gauze pada tali pusat setiap habis mandi

R: Nouvel gauze diganti untuk mencegah terjadinya infeksi

  1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi seperti peningkatan suhu tubuh, kemerahan disekitar tali pusat.

R: Peningkatan suhu tubuh, kemerahan disekitartali pusat dapat menunjukkan adanya infeksi

  1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

R: mencuci dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial

  1. Jaga lingkungan tetap bersih

R: Lingkungan yang bersih dapat menjaga kesehatan janin

 

  1. Resti hipotermi berhubungan dengan perubahan suhu

Tujuan: hipotermi tidak menjadi aktual

Intervensi:

  1. Segera bungkus bayi dengan selimut kering.

R: Mencegah penguapan suhu melalui evaporasi

  1. Observasi suhu bayi tiap 4 jam

R: Deteksi dini bila terjadi hipotermi

  1. Jaga lingkungan tetap hangat dan kering

R: Mencegah penguapan suhu

  1. Dekatkan bayi dengan ibu sesering mungkin

R: Dekapan ibu membuat bayi merasa hangat

 

  1. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi mucus

Tujuan: pola nafas efektif

Intervensi:

  1. Bersihkan muka dengan kasa/ kain bersih dari darah dan lendir segera setelah kepala bayi lahir.

R: Mengurangi resiko terjadinya aspirasi dan usaha untuk membebaskan jalan nafas bayi.

  1. Hisap lendir dengan menggunakan penghisap lendir atau kateter pada sisi mulut atau hidung. R: Membersihkan jalan nafas sehingga kebutuhan O2 dapat terpenuhi dengan pola nafas yang efektif.
  2. Miringkan bayi kekanan untuk mencegah regurgitasi

R: Mencehah terjadinya aspirasi yang dapat menimbulkan terjadinya gagal nafas pada bayi.

  1. Bersihkan jalan nafas

R: Membebaskan jalan nafas bayi.

  1. Pertahankan suplai oksigen adekuat

R: Memeuhi kebutuhan oksigen yang diperlukan bayi.

Evaluasi

  1. Tidak terjadi infeksi pada tali pusat
  2. Hipotermi tidak menjadi actual
  3. Pola nafas efektif

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA NEONATUS

  1. Asuhan Keperawatan Asfiksia Neonatorum

Pengertian

Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera atau beberapa saat setelah lahir. Secara klinik ditandai dengan sianosis, bradikardi, hipotonia, dan tidak ada respon terhadap rangsangan, yang secara objektif dapat dinilai dengan skor APGAR. Keadaan ini disertai hipoksia, hiperkapnia, dan berakhir dengan asidosis.

Etiologi

Asfiksia dapat terjadi karena beberapa faktor (Nurarif, 2013).

  1. Faktor Ibu

Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang. Akibatnya, aliran oksigen ke janin juga berkurang dan dapat menyebabkan gawat janin dan akhirnya terjadilah asfiksia. Berikut merupakan keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan asfiksia pada bayi baru lahir (Depkes RI, 2005 dan Nurarif, 2013):

  • Preeklamsia dan eklamsia
  • Demam selama persalinan
  • Kehamilan postmatur
  • Hipoksia ibu
  • Gangguan aliran darah fetus, meliputi :
    1. gangguan kontraksi uterus pada hipertoni, hipotoni, tetani uteri
    2. hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
    3. hipertensi pada penyakit toksemia
  • Primi tua, DM, anemia, riwayat lahir mati, dan ketuban pecah dini
  1. Faktor Plasenta

Keadaan berikut ini berakibat pada penurunan aliran darah dan oksigen melalui tali pusat ke bayi, sehingga bayi mungkin mengalami asfiksia (Depkes RI, 2005 dan Nurarif, 2013):

  • Abruptio plasenta
  • Solutio plasenta
  • Plasenta previa
  1. Faktor Fetus

Pada keadaan berikut bayi mungkin mengalami asfiksia walaupun tanpa didahului tanda gawat janin (Depkes RI, 2005 dan Nurarif, 2013):

  • Air ketuban bercampur dengan mekonium
  • Lilitan tali pusat
  • Tali pusat pendek atau layu
  • Prolapsus tali pusat
  1. Faktor Persalinan

Keadaan yang dapat menyebabkan asfiksia yaitu (Nurarif, 2013):

  • Persalinan kala II lama
  • Pemberian analgetik dan anastesi pada operasi caesar yang berlebihan sehingga menyebabkan depresi pernapasan pada bayi
  1. Faktor Neonatus

Berikut merupakan kondisi bayi yang mungkin mengalami asfiksia (Nurarif, 2013):

  • Bayi preterm (belum genap 37 minggu kehamilan) dan bayi posterm
  • Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, forsep)
  • Kelainan konginetal seperti hernia diafragmatika, atresia/stenosis saluran pernapasan, hipoplasi paru, dll.
  • Trauma lahir sehingga mengakibatkan perdarahan intracranial

Klasifikasi dan Manifestasi Klinis Asfiksia

Asfiksia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu asfiksia pallida dan asfiksia livida dengan masing-masing manifestasi klinis sebagai berikut (Nurarif, 2013):

Tabel 1. Karakteristik Asfiksia Pallida dan Asfiksia Livida

Perbedaan

Asfiksia Pallida

Asfiksia Livida

Warna Kulit

Pucat

Kebiru-biruan

Tonus Otot

Sudah kurang

Masih baik

Reaksi Rangsangan

Negatif

Positif

Bunyi Jantung

Tidak teratur

Masih teratur

Prognosis

Jelek

Lebih baik

Bayi akan dikatakan mengalami asfiksia berat jika APGAR score berada pada rentang 0-3, asfiksia sedang dengan nilai APGAR 4-6, dan bayi normal atau dengan sedikit asfiksia jika APGAR score berada pada rentang 7-10 (Nurarif, 2013).

Pada pertolongan persalinan, setiap petugas perlu mengetahui apakah bayi mempunyai resiko mengalami asfiksia. Pada keadaan tersebut, bicarakan dengan ibu dan keluarganya kemungkinan diperlukannya tindakan resusitasi. Akan tetapi, pada keadaan tanpa faktor resiko pun beberapa bayi dapat mengalami asfiksia. Oleh karena itu, petugas harus siap melakukan resusitasi bayi setiap melakukan pertolongan persalinan (Depkes RI, 2005).

Tahap persiapan meliputi (Depkes RI, 2005):

  1. Persiapan keluarga

Bicarakan dengan keluarga mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada ibu dan bayi sebelum menolong persalinan.

  1. Persiapan tempat

Tempat untuk resusitasi harus hangat, terang, rata, keras, bersih, kering, sebaiknya dekat pemancar panas, dan tidak berangin.

  1. Persiapan alat resusitasi

Alat yang digunakan meliputi :

  • Kain ke 1 : untuk mengeringkan bayi
  • Kain ke 2 : untuk membungkus bayi
  • Kain ke 3 : untuk mengganjal bahu bayi
  • Alat pengisap lendir DeLee
  • Tabung dan sungkup
  • Kotak alat resusitasi
  • Handscun
  • Stopwatch atau jam tangan
  1. Persiapan diri

Penolong harus mencuci tangan dan menggunakan APD sebelum menolong persalinan.

Keputusan melakukan resusitasi dinilai dari kondisi bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap. Selain itu, resusitasi juga dilakukan jika air ketuban bercampur dengan mekonium. Dalam manajemen asfiksia, proses penilaian sebagai dasar pengambilan keputusan bukanlah suatu proses sesaat yang dilakukan hanya satu kali. Pada setiap tahapan manajemen asfiksia senantiasa dilakukan penilaian untuk membuat keputusan, tindakan apa yang tepat untuk dilakukan (Depkes RI, 2005).

Setelah dilakukan resusitasi, maka bayi baru lahir dengan asfiksia diberikan asuhan pasca resusitasi. Asuhan pasca resusitasi merupakan perawatan intensif selama 2 jam pertama. Asuhan yang diberikan sesuai dengan hasil resusitasi, meliputi  (Depkes RI, 2005 dan Agarwal, 2008):

 

  1. Bila resusitasi berhasil

Hal yang pertama kali dilakukan setelah resusitasi berhasil yaitu memindahkan bayi ke ruangan bayi dan menjaga bayi agar tetap hangat. Kemudian lakukan monitoring tanda-tanda vital secara berkala. Lakukan juga pemeriksaan analisa gas darah, kadar gula darah, hematokrit, dan kadar kalsium.

Sementara itu, berikan konseling kepada ibu terkait pemberian ASI, menjaga kehangatan bayi dengan teknik Kangoroo Mother Care, dan jelaskan kepada ibu bagaimana tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir. Selain itu, selalu monitor warna kulit, suhu, dan respirasi rate minimal pada dua jam pertama, serta lakukan pencatatan atau dokumentasi.

 

  1. Bila perlu rujukan

Bayi perlu rujukan jika :

  • RR < 30x per menit, atau > 60x per menit
  • Adanya tarikan dinding dada
  • Bayi merintih (ada bunyi napas saat ekspirasi) atau megap-megap (ada bunyi napas saat inspirasi)
  • Tubuh bayi pucat atau kebiruan
  • Bayi lemas

Siapkan surat rujukan dan lakukan pencatatan atau dokumentasi setiap kali selesai melakukan tindakan.

 

  1. Bila resusitasi tidak berhasil
  • Lakukan konseling berupa pemberian dukungan moral kepada keluarga yang kehilangan. Ibu akan merasa sedih, bahkan menangis. Perubahan hormon setelah kehamilan mungkin menyebabkan perasaan ibu sangat sensitif. Jelaskan kepada ibu dan keluarga bahwa ibu memerlukan istirahat, dukungan moral, dan makanan bergizi.
  • Berikan asuhan tindak lanjut berupa kunjungan nifas.
  • Lakukan pencatatan atau dokumentasi

Ada beberapa hal yang tidak dianjurkan dilakukan terhadap bayi dengan asfiksia. Berikut adalah tindakan-tindakan yang sebaiknya dihindari saat melakukan pertolongan kepada bayi dengan asfiksia beserta akibat yang ditimbulkannya (Depkes RI, 2001) :

 

Tabel 3. Tindakan yang Tidak Dianjurkan dan Akibat yang Mungkin Ditimbulkannya

 

Tindakan

Akibat

Menepuk bokong

Trauma dan melukai

Menekan rongga dada

Fraktur, pneumototaks, gawat napas, kematian

Menekankan paha ke perut bayi

Ruptura hepar atau lien, perdarahan

Mendilatasi sfingter ani

Robek atau luka pada sfingter

Kompres dingin atau panas

Hipotermi, luka bakar

Meniupkan oksigen atau udara dingin ke muka atau tubuh bayi

Hipotermi

Berdasarkan penelitian oleh Berglund dkk (2008) dinyatakan bahwa kepatuhan terhadap protap penatalaksanaan atau manajemen asfiksia bayi baru lahir masih rendah dan harus ditingkatkan, terutama menyangkut tindakan ventilasi. Pendokumentasian juga harus diperbaiki agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (Berglund, 2008).

 

Penatalaksanaan dari sisi medikamentosa dapat dilakukan dengan (Depkes RI, 2005 dan IAI, 2012):

  1. Cairan penambah volume darah

Cairan diberikan jika bayi terlihat pucat, kehilangan darah, dan atau tidak memberikan respon yang memuaskan terhadap resusitasi. Cairan yang dipakai dapat berupa garam fisiologis (dianjurkan), ringer laktat, dan dapat juga berupa darah O-negatif dengan dosis 10 ml/kgBB/5-10 menit melalui jalur vena umbilikalis.

  1. Epinefrin

Epinefrin diberikan setelah VTP (ventilasi tekanan positif) 30 detik dan VTP+kompresi dada selama 30 detik tidak memberikan hasil positif sehingga frekuensi jantung tetap > 60 kali per menit. Dosis yang diberikan sebanyak 0,1 s.d. 0,3 ml/kgBB melalui rute IV dengan pengenceran 1 : 10.000 dan diberikan secepat mungkin.

  1. Natrium bikarbonat

Hanya diberikan jika dicurigai terjadinya asidosis metabolik atau terbukti sudah terjadi asidosis metabolik. Dosis pemberian yaitu sebanyak 2 mEq/kgBB (larutan 4,2%) melalui jalur vena umbilikus dengan kecepatan < 1 mEq/kgBB/menit. Natrium bikarbonat tidak boleh diberikan jika ventilasi masih belum adekuat.

Penelitian yang dilakukan oleh Gregorio dkk (2011) menyatakan bahwa ternyata kafein dapat digunakan untuk penanganan apneu pada bayi baru lahir prematur sehubungan dengan belum matangnya sistem saraf pada bayi tersebut. Dinyatakan bahwa kafein memiliki toksisitas yang rendah dan waktu paruh yang panjang. Beberapa penelitian juga melaporkan beberapa kemungkinan menarik dari efek yang dihasilkan oleh kafein, seperti efek perlindungan kafein terhadap otak dan paru-paru (Gregorio, 2011).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Gathwala dkk (2010) menyatakan bahwa pemberian magnesium dalam dosis tertentu kepada bayi dengan asfiksia berat dapat memberikan perlindungan terhadap sistem saraf bayi. Ion magnesium mempunyai reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) yang dapat melindungi otak dari kerusakan lebih lanjut akibat asfiksia (Gathwala, 2010).

 

Komplikasi

Komplikasi dapat mengenai beberapa organ pada bayi, diantaranya adalah sebagai berikut (Karlsson, 2008) :

  1. Otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis
  2. Jantung dan paru : hipertensi pulmonal persiste pada neonatus, perdarahan paru, edema paru
  3. Gastrointestinal : enterokolitis nekotikos
  4. Ginjal : tubular nekrosis akut, SIADH, anuria atau oliguria (< 1 ml/kg/jam) untuk 24 jam atau lebih dan kreatinin serum > 100 mmol/L
  5. Hematologi : DIC
  6. Hepar : aspartate amino transferase > 100 U/L, atau alanine amino transferase > 100 U/L sejak minggu pertama kelahiran

Komplikasi yang khas pada asfiksia neonatorum yaitu Enselopati Neonatal atau Hipoksik Iskemik Enselopati yang merupakan sindroma klinis berupa gangguan fungsi neurologis pada hari-hari awal kehidupan bayi aterm (Moster, 2002). Penelitian yang dilakukan oleh Azzopardi dkk (2009) serta penelitian oleh Wintermark dkk (2011) menyatakan bahwa meskipun induksi hipotermia sedang selama 72 jam pada bayi dengan asfiksia neonatorum tidak secara signifikan mengurangi tingkat kematian maupun cacat berat, tetapi menghasilkan pengaruh baik terhadap sistem saraf pada bayi yang selamat (Azzopardi, 2009 dan Wintermark, 2011).

 

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian

Hal-hal yang dikaji pada bayi baru lahir dengan asfiksia setelah tindakan resusitasi meliputi (Carpenito, 2007 dan Mansjoer, 2000) :

  1. Sirkulasi

Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110-180 kali per menit. Tekanan darah 60-80 mmHg sistolik dan 40-45 mmHg diastolik

  • Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediasternum pada ruang intercostae III/IV
  • Mur-mur biasanya terjadi pada selama beberapa jam pertama kehidupan
  • Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena
  1. Eliminasi

Dapat berkemih saat lahir

  1. Makanan atau cairan (status nutrisi)
  • Berat badan : 2500-4000 gram
  • Panjang badan : 44-45 cm
  • Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai dengan gestasi
  1. Neurosensori
  • Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas
  • Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma)
  • Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemia, atau efek nekrotik)
  1. Pernapasan
  • APGAR scoreoptimal : antara 7 s.d. 10
  • Rentang RR normal dari 30-60 kali per menit, pola periodik dapat terlihat
  • Bunyi napas bilateral, kadang-kadang krekels umum awalnya silidrik thorax : kertilago xifoid menonjol umum terjadi
  1. Keamanan

Suhu normal pada 36,5 s.d. 37,5 0C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi

  1. Kulit

Kulit lembut, fleksibel, pengelupasan kulit pada tangan atau kakai dapat terlihat, warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herliquin, petekie pada kepala atau wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portuine, telengiektasis ( kelopak mata, antara alis dan mata, atau pada nukhal), atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat.Abrasi kulit kepala mungkin ada (penampakan elektroda internal)

 

  1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul antara lain yaitu:

  1. Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan imaturitas organ pernapasan (00032)
  2. Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan imaturitas kontrol suhu dan berkurangnya lemak tubuh subkutan (00008)
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan imaturitas organ pencernaan, refleks lemah (00002)
  1. Intervensi Keperawatan

 

 

No

Diagnosa

Keperawatan

Tujuan dan NOC

Kode NIC

NIC

1.

 

 

Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan immaturitas organ pernapasan (00032)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam, diharapkan klien dapat menunjukkan pola nafas yang efektif,dengan kriteria hasil :

NOC

1. Respiratory

    status (0403)

·   Frekuensi nafas normal

·   Irama pernafasan normal (regular)

·   Perkusi dada

normal (sonor)

·   Tidak dada

retriksi dinding

dada

·   Tidak ada

dipsnue

·   Tidak ada

penggunaan otot pernafan

 

2. Respiratory

    Patency (0410)

·   Dapat mengeluarkan sekret

·   Tidak ada nafas cuping hidung

·   Tidak ada

akumulasi sekret di saluran nafas

·   Tidak ada

gasping

·   Tidak ada suara nafas tambahan

3. Respiratory

    status  Gas

    exchage (0402)

·   Nilai AGD

Normal (PaO2,

PaCO2, PH

·   Tidak ada

sianosis

·   Tidak ada

penurunan 

kesadaran

3350

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monitor pernafasan

·   Kaji frekuensi pernafasan

dan pola pernafasan.

·   Perhatikan adanya apnea

dan perubahan frekuensi

jantung, tonus jantung,

tonus otot, dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan.

·   Lakukan pemantauan 

jantung dan pernafasan

yang kontinyu.

·   Berikan rangsangan taktil

yang segera (misal gosokan

punggung bayi) bila terjadi

apnea.

·   Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi.

Pencegahan aspirasi

·   Bersihkan saliva yang berlebih pada mulut bayi.

·   Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit

Hiperektensi.

 

Terapi oksigen

·   Berikan oksigen sesuai indikasi (head box).

·   Monitor aliran oksigen (5-7 l/menit untuk head box).

2.

Ketidakefektifan termoregolasi berhubungan dengan imaturitas kontrol suhu dan berkurangnya lemak tubuh

(00008)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam, diharapkan suhu tubuh klien tetap Normal dengan kriteria hasil:

NOC

1. Termoregulasi

    (0800)

·   Berkeringat saat deman

·   Tidak ada

perubahan warna kulit

·   Tidak ada

·   hyper/hypotermia

·   Tidak terjadi

·   dehidrasi

·   Suhu tubuh

·   normal(360-370)

 

2. Neurological

    status (0909)

·   Tidak ada

penurunan kesadaran

 

3. Tissue

perfusion:periferal (0407)

·   Tidak teraba

panas/dingin pada kulit

·   Elastisitas kulit

·   Tidak ada

sianosis

·   Tidak terjadi

gangguan integritas kulit

 

4.Vital sign

   (0802)

·   Nadi Normal

·   Respirasi Normal

·   Suhu Normal

·   Hipertemi/hipotemi tidak ada.

 

3900

Pengaturan suhu

·   Pertahankan suhu tubuh optimal dengan meminimalkan pembukaan inkubator terlalu lama.

·   Kaji suhu dengan sesering mungkin.

·   Gunakan lampu pemanas selama prosedur.

·   Pasang alat monitor suhu inti secara kontinu, sesuai kebutuhan.

·   Pertahankan kelembabab pada 50% atau lebih besar dalam incubator.

·   Perhatikan adanya takipnea atau apnea, sianosis umum, bradikardia, menangis buruk, atau latergi.

·   Berikan Dextrose  secara intravena, sesuai dosis yang dianjurkan.

3.

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan immaturitas organ pencernaa  (00002)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, nutrisi tubuh seimbang  dengaia hasil kriter :

NOC

1. Infan

    nurtitional 

   status  (1020)

·   Nutrition intake

·   oral food intake

·   oral fluid intake

·   HB normal

·   Serum albumin

Normal

 

2.Nutrition status:

   (1004)

·   Berat badan

sesuai

·   Bayi tampak

aktif

·   Tidak ada tanda dehidrasi/ overhidarasi

1120

 

 

 

 

1100

Terapi nutrisi

·   Berikan nutrisi sesuai kebutuhan bayi (pemberian ASI atau pengganti ASI melalui NGT).

·   Pantau masukan dan pengeluaran. Hitung konsumsi kalori dan elektrolit setiap hari (nutrisi parenteral).

 

Manajemen nutrisi

·   Mengkaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan (misalnya: menghisap, menelan, dan batuk ).

·   Kaji berat badan dengan menimbang berat badan.

·   Kaji tingkat dehidrasi, perhatikan fontanel, turgor kulit, berat jenis urine, kondisi membrane mukosa, dan fluktuasi berat badan.

·   Kaji tanda-tanda hipoglikemia: takipnea dan pernapasan tidak tratur, apnea, letargi, fluktuasi suhu, dan diaphoresis. Pemberian makan buruk, gugup, menangis nada tinggi, gemetar, mata terbalik, dan aktivitas kejang.

  1. Asuhan Keperawatan Infeksi/Sepsis Neonatorum

Pengertian

Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak, 2005).

Etiologi

Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.

–          Bakteri escherichia koli

–          Streptococus group B

–          Stophylococus aureus

–          Enterococus

–          Listeria monocytogenes

–          Klepsiella

–          Entererobacter sp

–          Pseudemonas aeruginosa

–          Proteus sp

–          Organisme anaerobik

Faktor- factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok, yaitu :

  1. Faktor Maternal
  2. Status sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang.

Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ibu yang berstatus sosio- ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih.

  1. Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun
  2. Kurangnya perawatan prenatal.
  3. Ketuban pecah dini (KPD)
  4. Prosedur selama persalinan.
  5. Faktor Neonatatal
  6. Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram), merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Transpor imunuglobulin melalui plasentaterutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit.\
  7. Defisiensi imun. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya hal tersebut, aktifitas lintasan komplemen terlambat, dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik, bersama dengan penurunan fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
  8. Laki-laki dan kehamilan kembar. Insidens sepsis pada bayi laki- laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan.
  9. Faktor Lingkungan
    • Ada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif, dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.
    • Paparan terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bisa menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas, sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda.
    • Kadang- kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial), paling sering akibat kontak tangan.
    • Pada bayi yang minum ASI, spesies Lactbacillus dan E.colli ditemukan dalam tinjanya, sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E.colli.
    • Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara, yaitu :
      1. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini, antara lain malaria, sipilis, dan toksoplasma.
      2. Pada masa intranatal atau saat persalinan. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Akibatnya, terjadi amniotis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis, Candida albican,dan N.gonorrea.
      3. Infeksi paska atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat- alat : penghisap lendir, selang endotrakhea, infus, selang nasogastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS.,2003)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN SEPSIS NEONATORUM

  1. Pengkajian

–          Aktivitas/istirahat

           Gejala: malaise

–          Sirkulasi

          Tanda: tekanan darah normal/sedikit dibawah jangkauan normal denyut perifer 

                      kuat,cepat,takikardia (syok).

–          Eliminasi

           Gejala: diare

–          Makanan dan Minuman

           Gejala: anoreksia, mual, munta

–          Neurosensori

           Gejala: Sakit kepala, pusing, pingsan

           Tanda: gelisah, ketakutan

–          Nyeri / Keamanan

           Gejala: abdomiral

–          Pernafasan

           Gejala: tacipnea, infeksi paru, penyakit vital

           Tanda: Suhu naik( 39,95OC) kadang abnormal dibawah 39,95 derajat Celcius

–          Seksualitas

           Gejala:  puripus perineal

           Tanda: magerasi vulvaa – pengeringan vaginal purulen

–          Penyuluhan Pembelajaraan

           Gejala: masalah kesehatan kronis riwaayat selenektomi penggunaan antibiaotik

  1. Diagnosa Keperawatan
  2. Resiko tinggi terhadap infeksi (progesi dari sepsis ke syok sepsis) berdasarkan prosedur invasif, pemajanan lingkungan (nasokomial).

Intervensi :

  1. Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi
  2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukaan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan steril.
  3. Dorong penggantian posisi , nafas dalama/ batuk.
  4. Batasi penggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan
  5. Pantau kecendrungan suhu

Rasional :

  1. Isolasi luka linen dan mencuci tangan adalah yang dibutuhkan untuk mengalirkan luka, sementar pengunjung untuk menguranagi kemungkinan infeksi.
  2. Mengurangi kontaminasi ulang.
  3. Bersihkan paru yang baaik untuk mencegah pnemoniaa
  4. Mencegah penyebaran infeksi melalui proplet udaraa.
  5. Demam ( 38,5OC- 40OC) disebabkan oleh efek dari endotoksinhipotalkus dan endofrin yang melepaskan pirogen.
  6. Hipertermia berdasarkan peningkatan tingkat metabolisme, penyakit dehidrasi, efek

    langsung dari sirkulasiedotoksia pada hipotalamus perubahan pada reguasi temperataif.

Intervensi :

  1. Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil / diaporesis.
  2. Pantau suhu linkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi.
  3. Berikan kompres hangat.

Rasional :

  1. Suhu 38,9OC- 41,1OC menunjukakana proses penyakit infeksius akut.
  2. Suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankana sushu mendekati normal.
  3. Dapat membantu mengurangi demam.
  4. Kekurangan volume cairan berdasaarkan peningkataaan jelas pada vasodilatif maatif/ kompurtmen vaskuler dan permeabilitas kapiler/kebocvoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang ketiga)

Intervensi :

  1. Ukur / kadar urine dan berat jenis datat ketidaak seimbangan masukan dan keluaraan kumulatif dihubungkan dengan berat badan setiapa hari, dorong masukan cairan oral sesuai toleransi.
  2. Palpasi denyut perifer
  3. Kaji membran mukosaa kering, turgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus.
  4. Amat odema dependem/ periper pada skrotum, punggung kaki.

Rasional :

  1. Pengurangan dalam sirkulasi volume cairan dapat mengurangi tekanan darah.
  2. Denyut yang lemah, mudah hilang dapat menyebabkan hipovolemia.
  3. Hipovomelemia/cairan ruang ketiga akan memperkuat tanda tanda dehidrasi.
  4. Kehilangan cairan dari komparlemen vaskuler kedalam ruangaan intersilikal akan menyebabkan edema jaringan.
  1. Asuhan Keperawatan Hipoglikemia Neonatus

Pengertian

Hipoglikemia ialah suatu penurunan abnormal kadar gula darah atau kondisi ketidaknormalan

kadar glukosa serum yang rendah. Keadaan ini dapat didefinisikan sebagai kadar glukosa di

bawah 40 mg/dL setelah kelahiran berlaku untuk seluruh bayi baru lahir atau pembacaan strip

reagen oxidasi glukosa di bawah 45 mg/dL yang dikonfirmasi dengan uji glukose darah.

Kelompok Umur

Glukosa <mg/dl

Darah Plasma/Serum

Bayi /Anak

< 40 mg / 100 ml

< 45mg/ 100 ml

Neonatus

·         BBLR / KMK

·         BCB

        0 – 3 hr

        3 hr

< 20 mg / 100 ml

 

< 30 mg / 100 ml

< 40 mg / 100 ml

< 25 mg / 100 ml

 

< 35 mg / 100 ml

< 45 mg / 100 ml

Hipoglikemia pada neonatus bisa disebabkan oleh penyebab-penyebab di atas, namun bila

hipoglikemia neonatus tadi berulang/menetap, dapat dipikirkan penyebab sebagai berikut:

  1. Hormon Excess-hyperinsulinsm
    1. Exomphalos, macroglossia, gigantism syndrome of Beckwith Wiedemann
    2. “Infant giants”
    3. Kelainan patologik sel beta :
  2. Adenoma
  3. Nesidioblastosis
  4. Hiperplasia
  5. Leucine or other amino acid sensitivity
  6. Defisiensi hormonal Aplasia atau hipoplasia kelenjar hipofise dengan defisiensi hormon multipel
  7. Defek metabolisme karbohidrat heriditer
  8. Glycogen storage disease, Type I
  9. Intolerans fruktose
  10. Galaktosemia
  11. Defisiensi sintetase glikogen
  12. Defisiensi fruktose 1 – 6 difosfatase
  13. Defek metabolisme asam amino herediter
  14. Maple syrup urine disease
  15. Asidemia metilmalonik
  16. Asidemia propionik
  17. Tirosinosis

Hipoglikemia neonatus dapat disebabkan oleh penyakit/kelainan penyerta, seperti:

  1. Patologik susunan saraf pusat (defek bawaan, infeksi intra uterin
  2. atau perinatal, perdarahan atau kernikterus)
  3. Sepsis
  4. Hydrops fetalis
  5. Kelainan jantung bawaan
  6. Asfiksia
  7. Anoksia
  8. Perdarahan kelenjar adrenalin
  9. Hipotiroidismc
  10. Kelainan bawaan multipel
  11. Tetanus neonatorum
  12. Cold injury
  13. Pasca transfusi tukar
  14. Obat-obat yang diberikan kepada ibu
  15. Penghentian tiba-tiba pemberian glukose hipertonik parenteral.

Gejala Klinis

Gejala hipoglikemia jarang terjadi sebelum kadar gula darah mencapai 50mg/dL.

Gejala nya antara lain:

 Jitteriness

 Sianosis

 Kejang atau tremor

 Letargi dan menyusui yang buruk

 Apnea

 Tangisan yang lemah atau bernada tinggi

 Hipotermia

 RDS

Penatalaksanaan bagi Bayi

  1. Monitor

Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3

hari pertama :

  • Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam
  • Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali

pemeriksaan

Kadar glukosa ≤  45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia

  • Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia Selesai
  1. Penanganan hipoglikemia dengan gejala :
  • Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit
  • Pasang jalur iv D10 sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit). Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 18 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari.

Atau cara lain dengan GIR

Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan

vena sentral.

Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR.

Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate

 

GIR (mg/kg/min) = Kecepatan cairan (cc/jam) x konsentrasi Dextrose (%)

                                                                     6 x berat (Kg)

Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari

Kebutuhan 80 cc/jam/hari  = 80 x 3 = 240 cc/hari  = 10 cc/jam

GIR = 10 x 10 (Dextrose 10%) = 100 = 6 mg/kg/min

                   6 x 3                            18

  • Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam
  • Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas
  • Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :

o Infus D10 diteruskan

o Periksa kadar glukosa tiap 3 jam

o ASI diberikan bila bayi dapat minum

  • Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan

o Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal

o ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan

o Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba

  1. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl tanpa gejala :

 ASI teruskan

 Pantau, bila ada gejala manajemen seperti diatas

 Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :

o Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi

o Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum

o Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal

  1. Kadar glukosa normal
  • IV teruskan
  • Periksa kadar glukosa tiap 12 jam
  • Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas
  • Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali pemeriksaan dalam batas normal, pengukuran dihentikan.
  1. Persisten hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari)
  • konsultasi endokrin
  • terapi : kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.
  • bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain : somatostatin, glukagon, diazoxide, human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)

Asuhan Keperawatan pada Hipoglikemia Neonatus

  1. Pengkajian : Nama, Usia, Alamat, Nama Orangtua, Riwayat prenatal, natal dan post natal, dll.

   Pemeriksaan Fisik : head to toe

Keluhan utama : sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.

Data fokus

   Data Subyektif:

–         Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas

–         Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin

–         Rasa lapar (bayi sering nangis)

–         Nyeri kepala

–         Sering menguap

–         Irritabel

 

Data obyektif:

–         Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,

–         Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat irreguler, keringat

          dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma

–         Plasma glukosa < 50 gr/%

  1. Diagnose dan Rencana Keperawatan
    1. Resiko  komplikasi berhubungan dengan kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi

Rencana tindakan:

–         Cek serum glukosa sebelum dan setelah makan

–         Monitor : kadar glukosa, pucat, keringat dingin, kulit yang lembab

–         Monitor vital sign

–         Monitor kesadaran

–         Monitor  tanda gugup, irritabilitas

–         Lakukan pemberian susu manis  peroral 20 cc X 12

–         Analisis kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan hipoglikemi.

–         Cek BB setiap hari

–         Cek tanda-tanda infeksi

–         Hindari terjadinya hipotermi

–         Lakukan kolaborasi pemberian Dex 15 %  IV

–         Lakukan kolaborasi pemberian O2 1 lt – 2 lt /menit

 

  1. Resiko  terjadi infeksi berhubungan dengan  penurunan daya tahan tubuh

Rencana tindakan:

–         Lakukan prosedur perawatan tangan sebelum dan setelah tindakan

–         Pastikan setiap benda yang dipakai kontak dengan bayi dalam keadaan bersih 

          atau steril

–         Cegah kontak dengan petugas atau pihak lain yang menderita infeksi saluran

          nafas.

–         Perhatikan kondisi feces bayi

–         Anjurkan keluarga agar mengikuti prosedur septik aseptik.

–         Berikan antibiotik sebagai profolaksis sesuai dengan order.

–         Lakukan pemeriksaan DL, UL, FL secara teratur.

 

  1. Resiko  Ggn Keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan  peningkatan pengeluaran keringat

–         Cek intake dan output

–         Berikan cairan  sesuai dengan  kebutuhan bayi /kg BB/24 jam

–         Cek turgor kulit bayi

–         Kaji intoleransi minum bayi

–         Jika mengisap sudah baik anjurkan pemberian ASI

 

  1. Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan  hipoglikemi pada otot

–         Bantu pemenihan kebutuhan sehari-hari

–         Lakukan fisiotherapi

–         Ganti pakaian bayi secara teratur dan atau jika kotor dan basah.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arief, Mansjoer. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1. Penerbit Media Aesculapius. Jakarta
  2. Carpenito, Lynda juall. (2000). Buku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran,

EGC. Jakarta

  1. Doengoes E. Marylin. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta
  2. Doengoes E. Marylin. (2001). Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi, EGC. Jakarta
  3. Harianto, Agus. 2008. Sepsis Neonatorum. Akses internet di http://www.pediatrik.com/artikel/sepsis-neonatorium
  4. Novriani, Erni. 2008. Sepsis Neonatorum. Akses Internet di http://cemolgadis-melayu.blogspot.com/2008/12/kepanak-sepsis.htm
  5. 2007. Sepsis. Akses internet dihttp://www.pediatrik.com/ilmiah_popular/20060220- 1uyr3qilmiahpopular.doc
  6. Berkow & Beers. 1997. Neonatal Problems : Sepsis Neonatorum. Akses internet di http://debussy.hon.ch/cgi-bin/find? 1+submit+sepsis_neonatorum
  7. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak ed.15 vol.I.1999.EGC:Jakarta
  8. Bobak,keperawatan maternitas ed.4.2004.EGC:Jakarta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

pendaftaran-wijaya-husada